
Pada tahun 1949 Kyai Ali Qosim muda yang lahir di kota Malang, yang mana beliau adalah pimpinam Hizbullah pada saat itu di kota Malang. Pada waktu itu, Pemerintah Belanda setempat mencari beliau untuk ditangkap. Setelah mendengar hal tersebut, Kyai Ali Qosim muda mengajak keponakan beliau yang bernama Kyai Hasbullah muda untuk menyelamatkan diri dan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi dari kejaran tentara Belanda.
Kyai Ali Qosim dan keponakan beliau Kyai Hasbullah menuju ke Pandaan, meminta bantuan dari H. Nurul Anwar, kepala desa Pandaan sekaligus teman seperjuangan beliau di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang mana pada saat itu diasuh oleh Hadrotus Syeikh K.H. Hasyim Asy’ari. Mereka berdua diberikan tempat tinggal dan pelayanan yang baik oleh H.Nurul Anwar, dan sebagai gantinya, H. Nurul Anwar selaku kepala desa pada waktu itu meminta bantuan kepada Kyai Ali Qosim dan Keponakannya Kyai Hasbullah untuk mengajar dan meningkatkan SDM masyarakat desa saat itu.

Pada saat itu kegiatan belajar dan mengajar pertama kali dilakukan bukanlah di gedung sekolah atau semacamnya akan tetapi kegiatan belajar dan mengajar dilakukan di balai desa Nogosari dan di rumah perangkat desa dengan sarana dan prasarana yang seadanya. Setelah kurang lebih 2 tahun mereka tinggal di desa Nogosari dan masyarakat mulai senang dengan kehadiran Kyai Ali Qosim dan Kyai Hasbullah di desa Nogosari, H. Nurul Anwar mewaqofkan sepetak tanah untuk dibangun sekolah dan akan diserahkan pengelolaannya kepada Kyai Ali Qosim.
Dengan Rahmat Allah dan semangat gotong royong masyarakat desa Nogosari, berdirilah MWB (Madrasah Wajib Belajar) pada tanggal 14 November 1951 dengan Kyai Ali Qosim sebagai kepala madrasahnya, kemudian pada tahun 1967, Kyai Ali Qosim mengundurkan diri dari jabatan kepala madrasah dan guru karena beliau ingin lebih fokus mengajar masyarakat melalui majlis ta’lim dan masjid sekitar. Kendali kepemimpinan setelah itu dipegang oleh Kyai Hasbullah dan di tahun tersebut MWB berganti nama menjadi SDNU, kemudian pada tahun 1980 SDNU berganti nama menjadi MINU, dan pada tahun 1985 berganti lagi menjadi MI Ma’arif NU Nogosari sampai saat ini